Oleh: Dr. Ali Marzuki Zebua
Di banyak keluarga Indonesia, keberhasilan anak masih terlalu sering diukur dari angka-angka. Nilai rapor harus tinggi, peringkat kelas harus membanggakan, olimpiade harus dimenangkan, dan sebanyak mungkin sertifikat harus menghiasi dinding rumah. Orang tua rela mengeluarkan biaya besar untuk les tambahan, sekolah favorit, hingga berbagai pelatihan akademik. Ironisnya, di tengah perlombaan menghasilkan anak-anak yang semakin pintar, kita justru menyaksikan meningkatnya berbagai persoalan yang tidak pernah tercermin dalam lembar rapor: perundungan, kekerasan antarpelajar, rendahnya empati, kecanduan gawai, krisis kesehatan mental, hingga menurunnya kemampuan anak membangun relasi sosial yang sehat.
Fenomena ini seharusnya mendorong kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah selama ini kita sedang mendidik anak menjadi manusia yang utuh, atau sekadar mengejar prestasi yang mudah diukur? Jangan-jangan yang selama ini kita sebut sebagai keberhasilan pendidikan hanyalah keberhasilan meningkatkan kemampuan kognitif, sementara dimensi karakter, pengendalian diri, tanggung jawab, dan kedewasaan justru tertinggal.
Dalam sebuah diskusi memperingati Hari Anak Nasional, neurolog dr. Ryu Hasan menyampaikan sebuah kalimat yang menurut saya layak menjadi bahan refleksi bersama: “Sebetulnya dunia ini tidak kejam. Ekspektasi kita saja yang ketinggian.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan kritik yang tajam terhadap cara kita memandang pendidikan. Kita terlalu cepat menuntut anak menjadi luar biasa, sementara kita sering lupa bahwa menjadi manusia yang baik adalah sebuah proses panjang yang dibangun sedikit demi sedikit melalui pengalaman, pembiasaan, dan keteladanan.
Kritik tersebut bukan berarti prestasi akademik tidak penting. Pengetahuan tetap menjadi modal utama menghadapi dunia yang semakin kompleks. Namun, kecerdasan tanpa karakter hanya akan menghasilkan individu yang cakap secara intelektual tetapi rapuh secara moral. Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa banyak persoalan sosial bukan disebabkan oleh kurangnya orang pintar, melainkan karena kurangnya orang yang mampu mengendalikan dirinya, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
Di sinilah letak persoalan pendidikan kita. Selama bertahun-tahun, energi bangsa lebih banyak dihabiskan untuk memperbaiki kurikulum, menambah mata pelajaran, mengganti sistem evaluasi, atau memperdebatkan metode pembelajaran. Semua itu penting, tetapi sering kali kita melupakan fondasi yang jauh lebih menentukan: bagaimana kebiasaan sehari-hari dibangun sejak anak membuka mata hingga kembali tidur. Pendidikan karakter ternyata tidak lahir dari banyaknya slogan yang dipasang di dinding sekolah, melainkan dari tindakan-tindakan kecil yang diulang setiap hari sampai menjadi bagian dari kepribadian.
Inilah sebabnya saya sepakat dengan tesis besar yang disampaikan dr. Ryu Hasan bahwa persoalan mendasar pendidikan bukanlah anak-anak kita kurang pintar, melainkan mereka kurang dilatih. Pernyataan ini tidak boleh dipahami sebagai kritik terhadap anak, tetapi sebagai kritik terhadap kita semua—orang tua, sekolah, masyarakat, bahkan negara—yang lebih gemar memberikan nasihat daripada menciptakan lingkungan yang secara konsisten melatih perilaku baik. Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Mengapa anak-anak sekarang berubah?” dan mulai bertanya, “Kebiasaan apa yang setiap hari sedang kita wariskan kepada mereka?”

Mengapa Karakter Tidak Dapat Diajarkan, tetapi Harus Dilatihkan?
Selama berabad-abad, pendidikan sering dipahami sebagai proses mentransfer pengetahuan dari guru kepada murid. Paradigma ini berhasil melahirkan berbagai kemajuan dalam ilmu pengetahuan, tetapi tidak selalu berhasil membentuk manusia yang berkarakter. Pengetahuan dan karakter ternyata bekerja melalui mekanisme yang berbeda. Pengetahuan dapat dipelajari melalui membaca, mendengar, dan menghafal. Sebaliknya, karakter hanya tumbuh melalui pengalaman yang diulang, dipraktikkan, dan dijalani secara konsisten.
Karena itu, keliru apabila kita menganggap bahwa pendidikan karakter cukup dilakukan dengan menambahkan mata pelajaran, memperbanyak ceramah motivasi, atau memasang slogan-slogan moral di lingkungan sekolah. Anak mungkin mengetahui bahwa berbohong adalah perbuatan yang salah, tetapi pengetahuan itu tidak otomatis membuatnya menjadi pribadi yang jujur. Ia mungkin hafal pentingnya disiplin, tetapi tidak serta-merta mampu mengelola waktu dengan baik. Pengetahuan tentang nilai tidak selalu berujung pada perilaku yang bernilai.
Dalam diskusi Hari Anak Nasional, dr. Ryu Hasan menyampaikan pengamatan yang sangat sederhana sekaligus mendalam. Menurutnya, masyarakat yang dikenal disiplin tidak dibentuk oleh banyaknya nasihat, melainkan oleh proses latihan yang berlangsung sejak usia dini. “Orang Jepang tidak menjadi seperti sekarang karena dinasihati, tetapi karena dilatih sejak bayi,” ujarnya. Pernyataan ini sesungguhnya mengingatkan kita bahwa karakter bukanlah materi pelajaran, melainkan hasil dari proses pembiasaan yang panjang.
Temuan tersebut memperoleh dukungan kuat dari teori Social Learning yang dikembangkan Albert Bandura. Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui proses mengamati (observational learning), meniru (modeling), dan mengulangi perilaku yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya (Bandura, 1977). Seorang anak tidak belajar kejujuran hanya karena diberi tahu agar jujur, tetapi karena ia hidup bersama orang-orang yang mempraktikkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula dengan disiplin, tanggung jawab, atau empati. Semua nilai itu pertama-tama dipelajari melalui pengalaman sosial sebelum akhirnya menjadi bagian dari kepribadian.
Pandangan Bandura kemudian diperkaya oleh konsep hidden curriculum yang diperkenalkan Philip W. Jackson. Menurut Jackson (1968), sekolah sesungguhnya mengajarkan jauh lebih banyak daripada apa yang tertulis dalam kurikulum resmi. Peserta didik setiap hari belajar dari budaya sekolah, cara guru memperlakukan murid, bagaimana aturan diterapkan, bagaimana konflik diselesaikan, hingga bagaimana orang dewasa saling menghormati atau justru saling merendahkan. Inilah kurikulum yang tidak pernah tertulis, tetapi justru paling kuat membentuk karakter.
Konsep hidden curriculum membantu kita memahami mengapa pendidikan karakter sering kali tidak menghasilkan perubahan yang signifikan. Di banyak sekolah, peserta didik diminta berlaku jujur, tetapi mereka melihat praktik ketidakjujuran dianggap lumrah. Mereka diajarkan pentingnya disiplin, tetapi menyaksikan keterlambatan yang terus dibiarkan. Mereka didorong untuk berpikir kritis, tetapi pertanyaan yang berbeda sering dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Anak akhirnya belajar bahwa nilai-nilai moral yang diajarkan di kelas tidak selalu berlaku dalam kehidupan nyata.
Fenomena yang sama juga terjadi di lingkungan keluarga. Orang tua berharap anak gemar membaca, tetapi rumah hampir tidak pernah menyediakan waktu untuk membaca bersama. Anak diminta menghargai orang lain, tetapi setiap hari menyaksikan pertengkaran yang dipenuhi kata-kata kasar. Mereka diminta mengurangi penggunaan gawai, sementara orang tua sendiri lebih banyak berinteraksi dengan layar daripada dengan anggota keluarganya. Dalam situasi seperti ini, yang sedang mendidik anak bukanlah nasihat orang tua, melainkan budaya yang mereka bangun tanpa disadari.
Hal inilah yang menurut saya menjadi inti kritik dr. Ryu Hasan. Pendidikan bukan pertama-tama persoalan apa yang kita katakan kepada anak, melainkan kehidupan seperti apa yang setiap hari mereka saksikan. Ketika budaya keluarga, sekolah, dan masyarakat berjalan searah dengan nilai yang diajarkan, karakter akan tumbuh secara alami. Sebaliknya, ketika ketiganya saling bertentangan, nasihat sebanyak apa pun akan kehilangan daya ubahnya.
Pandangan tersebut ternyata juga telah lama menjadi bagian dari tradisi pendidikan Islam. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa sehingga melahirkan perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan yang panjang. Sifat itu tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dibentuk melalui riyāḍah (latihan) dan ta’wīd (pembiasaan). Dengan kata lain, seseorang menjadi jujur bukan karena ia terus-menerus mendengar ceramah tentang kejujuran, tetapi karena ia terus-menerus membiasakan dirinya untuk berlaku jujur hingga kejujuran menjadi bagian dari karakternya.
Di sinilah saya mengusulkan apa yang saya sebut sebagai pedagogi pembiasaan (pedagogy of habituation). Pendekatan ini menempatkan latihan yang disengaja, keteladanan, budaya kelembagaan, serta pengulangan perilaku sebagai inti dari proses pendidikan. Pengetahuan tetap penting, tetapi pengetahuan harus diterjemahkan menjadi kebiasaan. Sebab, pada akhirnya, masa depan seorang anak tidak ditentukan oleh seberapa banyak nilai moral yang ia hafal, melainkan oleh seberapa sering nilai-nilai tersebut ia praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Krisis Pendidikan Indonesia Bukan Krisis Kurikulum, Melainkan Krisis Ekosistem
Selama lebih dari dua dekade terakhir, Indonesia tidak pernah berhenti melakukan pembaruan pendidikan. Kurikulum berganti beberapa kali, sistem evaluasi diperbaiki, teknologi digital diperkenalkan ke ruang kelas, dan berbagai program penguatan karakter diluncurkan. Hampir setiap perubahan pemerintahan membawa semangat baru untuk memperbaiki mutu pendidikan.
Semua ikhtiar tersebut patut diapresiasi. Namun, jika ukuran keberhasilan pendidikan adalah lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, disiplin, tangguh, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian sosial, maka kita harus mengakui bahwa pekerjaan rumah kita masih sangat besar.
Mengapa?
Karena pendidikan bukan hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan di sekolah, melainkan oleh ekosistem tempat anak bertumbuh.
Dalam teori ekologi perkembangan manusia, Urie Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perkembangan anak merupakan hasil interaksi berbagai lingkungan yang saling memengaruhi: keluarga, sekolah, teman sebaya, media, masyarakat, hingga kebijakan negara. Tidak ada satu institusi pun yang mampu membentuk karakter seorang anak sendirian. Ketika pesan-pesan moral yang diterima anak dari rumah bertentangan dengan budaya sekolah, atau ketika nilai-nilai yang diajarkan guru dibatalkan oleh realitas sosial yang mereka lihat setiap hari, proses pendidikan kehilangan konsistensinya.
Barangkali di sinilah kita menemukan akar persoalan pendidikan Indonesia. Kita terlalu sering menganggap sekolah sebagai satu-satunya institusi yang bertanggung jawab membentuk karakter. Padahal, sekolah hanya menghabiskan sebagian kecil dari kehidupan anak. Selebihnya, mereka belajar dari rumah, lingkungan bermain, media sosial, tokoh publik, bahkan dari cara orang dewasa memperlakukan hukum dan sesama warga negara.
Dalam diskusi Hari Anak Nasional, dr. Ryu Hasan menggunakan sebuah metafora yang sangat kuat.
“Masalahnya adalah kita ini sedang berjalan ke timur sambil yakin akan sampai ke utara.”
Kalimat tersebut menggambarkan sebuah kontradiksi yang masih sering kita jumpai dalam praktik pendidikan.
Kita ingin anak-anak disiplin, tetapi mereka tumbuh dalam budaya yang menganggap keterlambatan sebagai sesuatu yang biasa.
Kita mengajarkan kejujuran, tetapi anak menyaksikan berbagai bentuk manipulasi dianggap sebagai kecerdikan.
Kita meminta mereka menghormati perbedaan, tetapi ruang publik justru dipenuhi ujaran kebencian dan polarisasi.
Kita berharap mereka gemar membaca, tetapi lebih banyak menyediakan layar daripada buku.
Kita mendorong kreativitas, tetapi kesalahan sering dipandang sebagai kegagalan, bukan bagian dari proses belajar.
Kontradiksi-kontradiksi seperti inilah yang sesungguhnya membentuk hidden curriculum bangsa. Tanpa kita sadari, anak sedang menerima dua kurikulum sekaligus. Kurikulum pertama mengajarkan nilai-nilai ideal melalui buku, guru, dan berbagai program pendidikan. Kurikulum kedua mengajarkan bagaimana kehidupan benar-benar dijalankan melalui perilaku orang dewasa yang mereka saksikan setiap hari.
Sayangnya, kurikulum kedua hampir selalu lebih kuat daripada kurikulum pertama.
Anak mungkin lupa isi ceramah gurunya.
Namun, mereka tidak pernah lupa bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya.
Mereka mungkin lupa materi Pendidikan Pancasila.
Namun, mereka akan mengingat bagaimana guru menyelesaikan konflik di kelas.
Mereka mungkin lupa slogan tentang kejujuran yang terpajang di dinding sekolah.
Namun, mereka akan mengingat apakah orang dewasa benar-benar berlaku jujur ketika tidak ada yang melihat.
Di sinilah saya melihat bahwa tantangan terbesar pendidikan Indonesia bukan lagi sekadar menyusun kurikulum yang lebih baik, melainkan membangun ekosistem pendidikan yang lebih konsisten. Karakter hanya dapat tumbuh apabila keluarga, sekolah, masyarakat, media, dan negara mengirimkan pesan moral yang sama melalui tindakan nyata. Selama setiap lingkungan berjalan dengan logikanya masing-masing, pendidikan akan terus melahirkan paradoks: anak mengetahui apa yang benar, tetapi tidak memperoleh cukup kesempatan untuk membiasakan diri melakukan yang benar.
Dengan demikian, revisi terbesar yang dibutuhkan pendidikan Indonesia bukan pertama-tama revisi dokumen kurikulum, melainkan revisi terhadap budaya yang kita hidupi bersama. Sebab, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, karakter tidak dibentuk oleh apa yang diajarkan sesekali, tetapi oleh apa yang dilatih setiap hari.

Ketika Algoritma Mulai Menggantikan Orang Tua
Jika pada masa lalu keluarga menjadi ruang utama pembentukan karakter, maka hari ini anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang jauh lebih kompleks. Mereka tidak hanya belajar dari orang tua, guru, atau teman sebaya. Mereka juga belajar dari algoritma media sosial yang bekerja selama dua puluh empat jam tanpa mengenal waktu istirahat.
Inilah perubahan paling mendasar dalam dunia pendidikan abad ke-21. Persoalan kita bukan lagi sekadar bagaimana membuat anak memperoleh akses terhadap teknologi, tetapi bagaimana memastikan bahwa teknologi tidak mengambil alih fungsi keluarga dan sekolah dalam membentuk karakter.
Dalam diskusi Hari Anak Nasional, dr. Ryu Hasan berulang kali menegaskan bahwa persoalan utamanya bukanlah media sosial itu sendiri, melainkan adiksi. Menurutnya, kecanduan merupakan ancaman yang jauh lebih serius daripada sekadar penggunaan teknologi. Ia bahkan mengingatkan bahwa yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana media digital membentuk pola perilaku anak sejak usia yang sangat muda.
Peringatan tersebut memperoleh perhatian yang semakin besar dalam berbagai kajian ilmiah beberapa tahun terakhir. Jonathan Haidt, dalam The Anxious Generation (2024), menunjukkan bahwa meningkatnya penggunaan telepon pintar dan media sosial pada awal usia remaja berkaitan dengan meningkatnya gangguan kecemasan, depresi, kesepian, gangguan tidur, dan menurunnya interaksi sosial secara langsung. Haidt tidak menyimpulkan bahwa teknologi harus dijauhi sepenuhnya, tetapi ia mengingatkan bahwa perkembangan psikologis anak membutuhkan pengalaman nyata—bermain, berinteraksi, bernegosiasi, menyelesaikan konflik, dan menghadapi risiko secara langsung—yang tidak dapat digantikan oleh pengalaman digital.
Pandangan tersebut mengandung pelajaran penting bagi dunia pendidikan. Selama ini kita terlalu sering memandang teknologi sebagai perangkat pembelajaran. Padahal, teknologi juga merupakan lingkungan pendidikan. Setiap aplikasi, permainan, dan media sosial memiliki logika, nilai, dan mekanisme yang secara perlahan membentuk perhatian, kebiasaan, bahkan cara berpikir penggunanya. Dalam bahasa Bronfenbrenner, ruang digital kini telah menjadi bagian dari lingkungan perkembangan anak. Mengabaikan pengaruhnya sama artinya dengan mengabaikan salah satu faktor paling dominan dalam pembentukan karakter generasi saat ini.
Persoalan menjadi semakin rumit ketika keluarga sendiri kehilangan perannya sebagai ruang interaksi utama. Tidak sedikit rumah yang dipenuhi oleh orang-orang yang tinggal bersama, tetapi hidup dalam dunia digital masing-masing. Ayah sibuk dengan pekerjaannya melalui telepon genggam. Ibu tenggelam dalam berbagai percakapan media sosial. Anak-anak larut dalam permainan daring atau video pendek yang terus berganti tanpa henti. Percakapan berkurang, makan bersama menjadi semakin jarang, dan waktu berkualitas digantikan oleh kehadiran fisik tanpa kehadiran emosional.
Dalam situasi seperti ini, larangan menggunakan gawai saja tidak akan menyelesaikan masalah. Anak-anak membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada sekadar pembatasan waktu layar. Mereka membutuhkan pengalaman hidup yang lebih menarik daripada layar itu sendiri. Mereka membutuhkan keluarga yang menyediakan ruang berdialog, sekolah yang memberi kesempatan untuk bekerja sama, lingkungan yang aman untuk bermain, dan masyarakat yang menghadirkan teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah tesis pedagogi pembiasaan kembali menemukan relevansinya. Pembentukan karakter tidak dapat diserahkan kepada algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Karakter hanya dapat tumbuh melalui interaksi manusia yang nyata, melalui kebiasaan-kebiasaan yang diulang setiap hari, melalui keteladanan yang dapat dilihat, serta melalui pengalaman hidup yang memberi makna. Teknologi dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi pendidikan, tetapi ia tidak akan pernah mampu menggantikan sentuhan manusia dalam membentuk hati, nurani, dan kebijaksanaan.
Oleh karena itu, tantangan terbesar pendidikan Indonesia bukanlah memilih antara dunia digital dan dunia nyata. Tantangannya adalah membangun keluarga, sekolah, dan masyarakat yang tetap menjadi pusat pembentukan karakter di tengah derasnya arus digitalisasi. Sebab, pada akhirnya, yang membentuk masa depan seorang anak bukanlah kecanggihan teknologi yang ia gunakan, melainkan kualitas manusia yang mendampinginya selama proses bertumbuh.

Pendidikan Islam Telah Lama Mengajarkan Pedagogi Pembiasaan
Jika berbagai penelitian psikologi modern baru dalam beberapa dekade terakhir menegaskan pentingnya pembentukan kebiasaan dalam pendidikan, tradisi pendidikan Islam sesungguhnya telah mengembangkan prinsip tersebut jauh sebelumnya. Para ulama klasik tidak memandang pendidikan sebagai proses mengisi akal dengan pengetahuan semata, melainkan sebagai ikhtiar membentuk kepribadian melalui latihan yang terus-menerus. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya ilmu yang dikuasai, tetapi dari sejauh mana ilmu tersebut menjelma menjadi akhlak dan perilaku sehari-hari.
Imam Al-Ghazali, misalnya, menjelaskan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam kuat dalam jiwa sehingga melahirkan tindakan secara spontan tanpa memerlukan pertimbangan yang panjang. Akhlak tidak muncul karena seseorang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi karena ia terus-menerus melatih dirinya melakukan kebaikan hingga menjadi bagian dari karakternya. Oleh sebab itu, Al-Ghazali menempatkan riyāḍah (latihan) dan ta’wīd (pembiasaan) sebagai metode penting dalam pendidikan. Pengetahuan adalah awal, tetapi pembiasaanlah yang mengubah pengetahuan menjadi karakter.
Gagasan serupa juga ditemukan dalam pemikiran Ibn Miskawayh. Dalam Tahdhīb al-Akhlāq, ia menjelaskan bahwa watak manusia dapat dibentuk melalui pendidikan dan latihan yang dilakukan secara berulang. Tidak ada manusia yang sejak lahir memiliki akhlak yang sempurna. Sebaliknya, kebajikan tumbuh karena seseorang dibiasakan memilih tindakan yang baik hingga tindakan tersebut menjadi kecenderungan yang menetap. Pandangan ini menunjukkan bahwa karakter bukanlah bakat yang diwariskan, melainkan hasil dari proses pendidikan yang berlangsung secara terus-menerus.
Ibn Khaldun kemudian memperluas gagasan tersebut dengan menunjukkan bahwa manusia dibentuk oleh lingkungan sosial tempat ia hidup. Dalam Muqaddimah, ia menjelaskan bahwa kebiasaan yang hidup dalam masyarakat akan membentuk cara berpikir, cara bertindak, bahkan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Dengan demikian, pendidikan tidak pernah berlangsung hanya di ruang kelas. Keluarga, masyarakat, dan budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembentukan manusia. Pandangan ini memiliki kemiripan yang kuat dengan teori ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner yang menempatkan lingkungan sebagai faktor utama dalam perkembangan anak.
Prinsip pembiasaan juga tampak jelas dalam praktik pendidikan Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran melalui lisan, tetapi membangun budaya hidup yang memungkinkan para sahabat mengalami, mempraktikkan, dan mengulang nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran, amanah, disiplin, kasih sayang, dan tanggung jawab tidak diajarkan sebagai konsep yang abstrak, melainkan dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan bersama. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat uswah hasanah—teladan terbaik—bagi orang-orang yang beriman (QS. Al-Ahzab [33]: 21). Ayat ini menunjukkan bahwa keteladanan bukan pelengkap pendidikan, melainkan metode pendidikan itu sendiri.
Jika dicermati lebih jauh, terdapat benang merah yang mempertemukan pemikiran para ulama klasik dengan temuan-temuan ilmu pendidikan kontemporer. Bandura berbicara tentang belajar melalui observasi. Bronfenbrenner menekankan pentingnya lingkungan perkembangan. Philip W. Jackson menjelaskan kekuatan hidden curriculum. Wendy Wood menunjukkan bagaimana kebiasaan terbentuk melalui pengulangan dalam konteks yang konsisten. Sementara itu, Al-Ghazali, Ibn Miskawayh, dan Ibn Khaldun telah lebih dahulu menegaskan bahwa pembiasaan, lingkungan, dan keteladanan merupakan inti dari proses pembentukan akhlak.
Pertemuan berbagai perspektif tersebut memperkuat tesis yang saya ajukan dalam artikel ini: pendidikan yang efektif bukanlah pendidikan yang paling banyak menyampaikan nasihat, melainkan pendidikan yang paling berhasil membangun kebiasaan. Inilah yang saya sebut sebagai pedagogi pembiasaan—sebuah pendekatan yang memandang karakter sebagai hasil dari interaksi antara keteladanan, latihan yang disengaja, budaya kelembagaan, serta lingkungan sosial yang konsisten. Dalam perspektif ini, pendidikan bukan lagi dipahami sebagai proses “memberi tahu” anak tentang nilai-nilai kebaikan, tetapi sebagai proses menciptakan ekosistem yang memungkinkan mereka hidup di dalam nilai-nilai tersebut setiap hari.
Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang pembaruan pendidikan Indonesia, sesungguhnya kita tidak sedang mencari konsep yang sepenuhnya baru. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk menghidupkan kembali prinsip-prinsip pendidikan yang telah lama dikenal, baik dalam khazanah pendidikan Islam maupun dalam temuan-temuan ilmu pengetahuan modern. Tantangan kita bukan kekurangan teori, melainkan kekurangan konsistensi dalam menerjemahkan teori menjadi budaya yang hidup di rumah, di sekolah, dan di tengah masyarakat.

Dari Pedagogi Instruksi Menuju Pedagogi Pembiasaan
Apabila akar persoalan pendidikan kita terletak pada lemahnya pembentukan kebiasaan, maka solusi yang dibutuhkan bukan sekadar menambah materi pendidikan karakter atau memperbanyak slogan moral di sekolah. Yang perlu diubah adalah paradigma kita tentang bagaimana manusia belajar menjadi manusia.
Selama ini, pendidikan kita masih didominasi oleh apa yang saya sebut sebagai pedagogi instruksi. Dalam paradigma ini, guru diposisikan sebagai penyampai pengetahuan, sedangkan peserta didik sebagai penerima informasi. Keberhasilan pembelajaran diukur dari seberapa banyak materi yang dapat dipahami, diingat, dan diulang kembali dalam bentuk jawaban ujian. Pendekatan ini sangat efektif untuk membangun kompetensi kognitif, tetapi tidak selalu berhasil membentuk karakter.
Karakter bekerja melalui mekanisme yang berbeda. Ia tidak tumbuh karena seseorang mengetahui apa yang benar, melainkan karena ia terbiasa melakukan yang benar. Oleh sebab itu, pendidikan karakter tidak cukup berhenti pada pengajaran nilai, tetapi harus menciptakan pengalaman yang memungkinkan nilai tersebut dipraktikkan secara terus-menerus hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dalam perspektif ini, tugas guru tidak lagi hanya mengajar, tetapi juga merancang pengalaman belajar yang melatih tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, kepedulian, dan disiplin. Tugas kepala sekolah bukan hanya memastikan administrasi berjalan dengan baik, tetapi membangun budaya sekolah yang membuat perilaku baik menjadi kebiasaan bersama. Demikian pula orang tua, perannya tidak berhenti pada memberi nasihat atau memenuhi kebutuhan materi anak, melainkan menciptakan kehidupan keluarga yang setiap hari menjadi ruang latihan bagi tumbuhnya karakter.
Perubahan paradigma ini juga mengubah cara kita memandang keberhasilan pendidikan. Selama ini, keberhasilan sering diukur melalui hasil yang tampak pada akhir proses: nilai ujian, peringkat kelas, atau kelulusan. Dalam pedagogi pembiasaan, keberhasilan justru diukur melalui kualitas proses yang berlangsung setiap hari. Apakah anak mulai terbiasa datang tepat waktu? Apakah ia belajar menyelesaikan tugas tanpa harus selalu diingatkan? Apakah ia mampu meminta maaf ketika melakukan kesalahan? Apakah ia menunjukkan kepedulian kepada teman yang mengalami kesulitan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang sesungguhnya lebih dekat dengan tujuan hakiki pendidikan.
Perubahan tersebut tentu tidak mudah. Ia menuntut konsistensi yang sering kali lebih sulit daripada menyusun kurikulum baru. Membangun kebiasaan membutuhkan waktu, kesabaran, dan keteladanan. Tidak ada hasil yang instan. Namun justru karena berlangsung perlahan, hasilnya cenderung lebih bertahan lama. Kebiasaan yang telah menyatu dengan karakter akan tetap hadir bahkan ketika tidak ada guru yang mengawasi, orang tua yang mengingatkan, atau aturan yang memaksa.
Dalam salah satu bagian diskusinya, dr. Ryu Hasan mengingatkan bahwa tidak ada rumus yang dapat menyelesaikan semua persoalan manusia. Pernyataan ini penting untuk dipahami dalam konteks pendidikan. Tidak ada metode tunggal yang cocok bagi semua anak, semua keluarga, atau semua sekolah. Pendidikan selalu berlangsung dalam konteks yang berbeda-beda. Karena itu, yang perlu dibangun bukanlah keseragaman metode, melainkan kesamaan arah. Setiap keluarga, sekolah, dan komunitas dapat mengembangkan cara yang sesuai dengan kondisi masing-masing, selama semuanya bergerak menuju tujuan yang sama: membentuk manusia yang berkarakter.
Bagi Indonesia, perubahan paradigma ini sesungguhnya memiliki landasan yang kuat. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga mengembangkan manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Rumusan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal pendidikan nasional tidak pernah dimaksudkan sekadar menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik. Tantangannya adalah bagaimana tujuan yang sangat mulia itu diterjemahkan menjadi budaya yang benar-benar hidup dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Di sinilah saya melihat bahwa pembaruan pendidikan Indonesia tidak memerlukan revolusi yang sepenuhnya baru. Yang lebih dibutuhkan adalah keberanian untuk mengembalikan pendidikan kepada hakikatnya: membentuk manusia. Kurikulum dapat berubah mengikuti perkembangan zaman, teknologi akan terus berkembang, dan tantangan sosial akan selalu berganti. Namun, satu hal tetap tidak berubah: karakter yang baik hanya lahir melalui pembiasaan yang baik. Pendidikan yang melupakan prinsip ini mungkin berhasil menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi belum tentu berhasil melahirkan manusia yang bijaksana.

Pendidikan Adalah Pekerjaan Membentuk Manusia
Barangkali sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Mengapa anak-anak kita berubah?” Pertanyaan yang lebih jujur justru adalah, “Lingkungan seperti apa yang telah kita bangun untuk mereka?” Sebab, anak-anak tidak tumbuh di ruang hampa. Mereka belajar dari rumah yang mereka tinggali, sekolah yang mereka datangi, masyarakat yang mereka saksikan, dan dunia digital yang setiap hari mereka masuki. Mereka adalah cermin dari ekosistem yang kita ciptakan.
Selama ini kita terlalu sering berharap lahir generasi yang disiplin tanpa membangun budaya disiplin. Kita ingin anak-anak jujur, tetapi mereka menyaksikan kompromi terhadap kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Kita menginginkan mereka memiliki empati, sementara ruang publik justru semakin dipenuhi kemarahan, polarisasi, dan saling merendahkan. Kita berharap mereka gemar membaca, tetapi lebih banyak menghadirkan layar daripada percakapan dan buku di rumah. Tanpa disadari, kita sedang meminta anak menjadi pribadi yang tidak pernah benar-benar kita latih untuk menjadi seperti itu.
Dalam salah satu bagian diskusinya, dr. Ryu Hasan mengingatkan bahwa persoalan terbesar sering kali bukan karena dunia terlalu kejam, melainkan karena ekspektasi kita yang terlalu tinggi terhadap hasil, sementara perhatian kita terhadap proses masih terlalu kecil. Kalimat ini layak menjadi bahan refleksi bagi siapa pun yang terlibat dalam dunia pendidikan. Terlalu lama kita mengukur keberhasilan dari nilai akhir, sementara pembentukan karakter justru berlangsung dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang nyaris tidak pernah masuk ke dalam laporan hasil belajar.
Karena itu, pembaruan pendidikan tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Ia dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dari keluarga yang kembali menyediakan waktu makan bersama tanpa gangguan gawai. Dari guru yang memilih menjadi teladan sebelum menjadi pengajar. Dari kepala sekolah yang membangun budaya saling menghormati, bukan sekadar mengejar administrasi. Dari masyarakat yang lebih menghargai kejujuran daripada kecerdikan yang mengabaikan etika. Perubahan-perubahan kecil seperti inilah yang, jika dilakukan terus-menerus, akan membentuk kebiasaan. Dan kebiasaan yang dipelihara dalam waktu yang panjang pada akhirnya akan membentuk karakter.
Pada titik inilah saya sampai pada sebuah keyakinan sederhana: masa depan pendidikan Indonesia tidak akan ditentukan semata-mata oleh seberapa sering kita mengganti kurikulum, melainkan oleh seberapa sungguh-sungguh kita membangun ekosistem yang setiap hari melatih anak-anak menjadi manusia yang baik. Kurikulum dapat mengajarkan apa yang benar, tetapi hanya budaya yang dapat membuat seseorang terbiasa melakukan kebenaran.
Mungkin itulah pelajaran paling berharga yang dapat kita petik dari perdebatan tentang pendidikan hari ini. Anak-anak Indonesia tidak kekurangan kecerdasan. Mereka lahir dengan potensi, rasa ingin tahu, dan kemampuan belajar yang sama berharganya dengan anak-anak di mana pun di dunia. Yang masih perlu terus kita bangun adalah lingkungan yang memberi mereka kesempatan untuk melatih disiplin, kejujuran, tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian, bukan sesekali, melainkan setiap hari.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukanlah pekerjaan menghasilkan anak-anak yang mampu menjawab semua soal. Pendidikan adalah pekerjaan yang jauh lebih mulia: membentuk manusia yang, ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi, tetap memilih melakukan apa yang benar.
Dan barangkali, di situlah letak perbedaan antara anak yang pintar dan manusia yang terdidik. Yang pertama diukur dari apa yang ia ketahui, sedangkan yang kedua dikenali dari kebiasaan baik yang telah menjadi bagian dari dirinya.

Membangun Ekosistem Pembentukan Karakter
Jika benar bahwa karakter tidak dibentuk oleh ceramah, melainkan oleh pembiasaan, maka pembaruan pendidikan tidak dapat berhenti pada revisi kurikulum atau perubahan metode pembelajaran. Yang sesungguhnya perlu dibangun adalah ekosistem yang memungkinkan setiap anak mengalami, mempraktikkan, dan mengulang nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter hanya akan berhasil apabila lingkungan tempat anak bertumbuh berbicara dengan bahasa moral yang sama.
Perubahan pertama harus dimulai dari keluarga. Selama ini banyak orang tua menganggap tugas mendidik selesai ketika anak telah disekolahkan di lembaga pendidikan yang baik. Padahal, keluarga tetap merupakan sekolah pertama sekaligus sekolah yang paling lama memengaruhi kehidupan anak. Anak belajar tentang kejujuran bukan terutama ketika mendengar nasihat orang tuanya, tetapi ketika menyaksikan orang tuanya berkata jujur dalam situasi yang sulit. Mereka belajar menghargai orang lain melalui cara ayah dan ibunya saling berbicara. Mereka belajar mengelola emosi melalui bagaimana konflik diselesaikan di rumah. Bahkan kebiasaan sederhana seperti makan bersama, membaca bersama, berdiskusi, beribadah, atau menyelesaikan pekerjaan rumah secara gotong royong sesungguhnya merupakan proses pendidikan karakter yang jauh lebih kuat daripada seribu nasihat yang disampaikan tanpa keteladanan.
Sekolah kemudian menjadi ruang kedua yang memperkuat pembiasaan tersebut. Selama ini perhatian kita terlalu banyak diarahkan pada apa yang diajarkan guru di kelas, sementara kita sering melupakan budaya sekolah yang sesungguhnya sedang membentuk karakter peserta didik setiap hari. Peserta didik belajar bukan hanya dari isi pelajaran, tetapi juga dari cara guru memperlakukan mereka, dari bagaimana kepala sekolah mengambil keputusan, dari bagaimana perbedaan pendapat dihargai, serta dari bagaimana seluruh warga sekolah memaknai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian. Sekolah yang berhasil membangun budaya seperti itu sedang menjalankan pendidikan karakter tanpa harus terlalu banyak mengucapkan kata “karakter”.
Di luar keluarga dan sekolah, masyarakat juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Anak-anak tumbuh dengan mengamati bagaimana orang dewasa menaati aturan, memperlakukan tetangga, menyikapi perbedaan, menggunakan media sosial, dan merespons persoalan publik. Dalam banyak keadaan, masyarakat menjadi “buku pelajaran” yang paling sering dibaca oleh anak-anak. Karena itu, pendidikan karakter tidak mungkin berhasil apabila ruang publik justru mempertontonkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah.
Pada saat yang sama, negara memiliki tanggung jawab membangun kebijakan yang memperkuat, bukan melemahkan, ekosistem tersebut. Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas kurikulum, tetapi juga oleh keberanian menghadirkan kebijakan yang memberi ruang bagi keluarga untuk menjalankan fungsi pengasuhannya, memperkuat budaya sekolah yang sehat, melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi, serta menciptakan ekosistem digital yang lebih aman bagi perkembangan mereka. Negara tidak dapat menggantikan peran keluarga atau guru, tetapi negara dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan keduanya menjalankan perannya secara lebih efektif.
Semua itu menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukanlah proyek satu lembaga, melainkan proyek peradaban. Ia membutuhkan keselarasan antara rumah, sekolah, masyarakat, media, dan negara. Ketika kelima unsur tersebut mengirimkan pesan moral yang sama, pembiasaan akan berlangsung secara alami. Sebaliknya, apabila masing-masing berjalan dengan arah yang berbeda, anak akan terus menerima nilai yang saling bertentangan dan kesulitan membangun karakter yang utuh.
Barangkali di sinilah letak pekerjaan terbesar kita. Tantangan pendidikan Indonesia bukan lagi mencari teori baru tentang karakter, karena teori-teori itu telah lama tersedia. Tantangan sesungguhnya adalah membangun konsistensi. Konsistensi dalam keteladanan. Konsistensi dalam pembiasaan. Konsistensi dalam menghadirkan lingkungan yang memungkinkan anak bukan hanya mengetahui apa yang benar, tetapi juga terbiasa melakukan kebenaran. Ketika konsistensi itu menjadi budaya, pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan lulusan yang cerdas, melainkan melahirkan manusia yang matang secara intelektual, moral, sosial, dan spiritual. Dan dari titik inilah, pembaruan pendidikan yang sesungguhnya dapat dimulai.

Daftar Pustaka
Al-Ghazali. (2013). Ihya’ ‘ulum al-din (Rev. ed.). Dar al-Minhaj. (Karya asli diterbitkan abad ke-11).
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.
Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press.
Haidt, J. (2024). The anxious generation: How the great rewiring of childhood is causing an epidemic of mental illness. Penguin Press.
Ibn Khaldun. (1967). The Muqaddimah: An introduction to history (F. Rosenthal, Trans., 2nd ed.). Princeton University Press. (Karya asli diterbitkan 1377).
Ibn Miskawayh. (1968). Tahdhīb al-Akhlāq wa Taṭhīr al-A‘rāq [The Refinement of Character]. American University of Beirut. (Karya asli diterbitkan abad ke-11).
Jackson, P. W. (1968). Life in classrooms. Holt, Rinehart and Winston.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Kurikulum Merdeka. Kemendikbudristek.
Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books.
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). PISA 2022 results (Volume I): The state of learning and equity in education. OECD Publishing.
Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.
UNESCO. (2021). Reimagining our futures together: A new social contract for education. UNESCO.
Wood, W. (2019). Good habits, bad habits: The science of making positive changes that stick. Farrar, Straus and Giroux.
Wood, W., & Rünger, D. (2016). Psychology of habit. Annual Review of Psychology, 67, 289–314. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-122414-033417
Hasan, R. (2025). Diskusi Hari Anak Nasional [Video]. YouTube.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *