Oleh: Dr. Reno Diqqi Alghzali, S.Psi.,M.Psi / Dosen IAIN Kerinci

Memasuki usia ke-81 tahun kemerdekaan Indonesia, kita tidak cukup hanya bertanya tentang seberapa jauh bangsa ini telah tumbuh secara ekonomi, teknologi, dan pembangunan fisik. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Indonesia seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kita berhadapan dengan persoalanlingkungan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, deforestasi, pencemaran sungai, krisis air,hilangnya keanekaragaman hayati, serta berbagai bencana ekologis bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan manusia. Krisis ekologis telah menjadi persoalan kemanusiaan, pendidikan, kesehatan psikologis, ekonomi, bahkan persoalan moral dan spiritual.

Dalam perspektif Islam, alam bukan sekadar objek yang boleh dieksploitasi untuk memenuhikebutuhan manusia. Alam adalah ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah yang mengajarkanmanusia tentang keteraturan, keseimbangan, keterhubungan, dan tanggung jawab. Karena itu,relasi manusia dengan alam semestinya tidak dibangun atas paradigma penguasaan semata, tetapi atas prinsip amanah, khalifah, keseimbangan (mizan), kemaslahatan, dan tanggung jawab antargenerasi. Di sinilah ekoteologi menemukan relevansinya.

Ekologi Bukan Sekadar Persoalan Lingkungan Ekoteologi mengajak kita melihat persoalan ekologis dari dimensi yang lebih dalam. Kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi karena teknologi yang salah atau kebijakan yang lemah, tetapi juga karena cara manusia memandang dirinya sendiri dan alam. Ketika manusia memandang alam hanya sebagai komoditas, hutan berubah menjadi angka produksi, sungai menjadi tempat pembuangan, tanah menjadi objek eksploitasi, dan hewan hanya dilihat berdasarkan nilai ekonominya. Krisis lingkungan pada akhirnya merupakan cermin dari krisis cara berpikir manusia. Karena itu, solusi ekologis tidak cukup hanya dengan menanam pohon, mengurangi sampah, atau membangun teknologi hijau. Semua itu penting, tetapi harus disertai perubahan paradigma dan karakter.

Islam telah memberikan fondasi etik yang kuat. Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidakmembuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Pesan tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai ayat yang dibaca, tetapi berkembang menjadi kesadaran ekologis yangdiwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, ekoteologi pada masa depan harus menjadi bagian dari transformasiperadaban: bagaimana manusia beriman, berpikir, belajar, bekerja, mengonsumsi, membangun, dan mengambil kebijakan tanpa merusak keseimbangan kehidupan.

Pendidikan Islam Harus Menjadi Penggerak Ekologi

Sebagai seorang yang melihat persoalan dari perspektif psikologi pendidikan Islam, saya melihat bahwa salah satu kunci masa depan ekologi Indonesia berada pada pendidikan.Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapimiskin kesadaran ekologis. Kita membutuhkan generasi yang memiliki kecerdasan akademiksekaligus kecerdasan ekologis dan spiritual.

Anak-anak perlu diajarkan bahwa membuang sampah sembarangan bukan hanya perilaku tidak disiplin, tetapi juga persoalan etika. Menghemat air bukan hanya tindakan ekonomis, tetapi bentuk syukur. Menanam pohon bukan sekadar aktivitas penghijauan, tetapi bagian daritanggung jawab sebagai khalifah. Menjaga kebersihan sungai bukan hanya program pemerintah, tetapi bagian dari menjaga amanah Allah. Di sinilah pendidikan Islam memiliki peluang yang sangat besar.

Pendidikan Islam dapat membangun hubungan antara iman, pengetahuan, perilaku, danlingkungan. Nilai-nilai seperti amanah, ihsan, zuhud, kesederhanaan, tanggung jawab, kasihsayang, dan larangan berbuat kerusakan dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan ekologis yangkonkret. Dari perspektif psikologi pendidikan, perubahan perilaku ekologis juga tidak dapat dibangunhanya melalui ceramah. Ia membutuhkan proses pembentukan kesadaran, sikap, kebiasaan,keteladanan, dan budaya lingkungan.Anak yang setiap hari melihat gurunya membawa botol minum sendiri, menjaga kebersihan kelas, merawat tanaman sekolah, menghemat listrik, dan memperlakukan lingkungan dengan penuh tanggung jawab akan memperoleh pembelajaran yang jauh lebih kuat daripada sekadar membaca materi tentang lingkungan. Karena itu, sekolah dan madrasah masa depan harus menjadi laboratorium peradaban ekologis.

Dari Green School Menuju Green Spirituality

Kita perlu bergerak lebih jauh dari sekadar konsep green school. Sekolah hijau memang penting, tetapi masa depan membutuhkan sesuatu yang lebih mendalam: green spirituality atau spiritualitas ekologis. Green spirituality berarti membangun kesadaran bahwa merawat bumi merupakan bagian daritanggung jawab moral dan spiritual manusia.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan menanam pohon dapat diintegrasikan dengan pendidikan akhlak. Pengelolaan sampah dapat dikaitkan dengan pembentukan disiplin dan tanggung jawab. Penghematan air dapat dikaitkan dengan nilai syukur dan anti-israf. Pengelolaan kebun sekolahdapat menjadi media pembelajaran sains, agama, psikologi, ekonomi, dan kewirausahaan secara sekaligus. Inilah pendidikan yang tidak memisahkan manusia dari alam.

HUT ke-81: Saatnya Memikirkan Kemerdekaan Ekologis

Pada HUT ke-81 Republik Indonesia, makna kemerdekaan perlu diperluas. Merdeka bukanhanya bebas dari penjajahan politik, tetapi juga kemampuan suatu bangsa untuk menentukanmasa depannya secara berkelanjutan. Bangsa yang kehilangan hutan, air bersih, tanah yang subur, keanekaragaman hayati, dankualitas lingkungan pada akhirnya menghadapi bentuk ketergantungan baru. Karena itu, kita membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai kemerdekaan ekologis: kemampuan untuk hidup maju tanpa menghancurkan fondasi kehidupan itu sendiri. Indonesia memiliki modal yang luar biasa besar untuk mewujudkannya.

Kekayaan alam,keragaman budaya, kearifan lokal, pesantren, madrasah, perguruan tinggi, komunitasmasyarakat, dan tradisi keagamaan dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun peradaban ekologis. Namun, semua itu membutuhkan perubahan paradigma. Kita tidak boleh mewariskan kepada anak-anak kita hanya gedung-gedung tinggi, jalan yangluas, dan teknologi yang semakin canggih. Kita juga harus mewariskan air yang bersih, udarayang sehat, hutan yang lestari, tanah yang subur, serta kesadaran spiritual untuk menjaganya.

Arah Masa Depan Ekoteologi sebagai Agenda Pendidikan Nasional

Ke depan, ekoteologi semestinya tidak ditempatkan hanya sebagai wacana akademik diperguruan tinggi atau kajian keagamaan tertentu. Ekoteologi perlu menjadi bagian daripercakapan besar tentang masa depan pendidikan Indonesia.

Kurikulum pendidikan Islam dapat mengintegrasikan isu perubahan iklim, keberlanjutan, konsumsi berkelanjutan, konservasi, dan keadilan ekologis dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Perguruan tinggi Islam dapat menjadi pusat riset mengenai hubungan antara agama, psikologimanusia, pendidikan, budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Pesantren dan madrasah dapat menjadi model komunitas ekologis melalui pengelolaan sampah, energi bersih, pertanian berkelanjutan, konservasi air, dan pendidikan lingkungan berbasis nilai keislaman.

Sementara itu, para pendidik perlu dipersiapkan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagaiagen transformasi ekologis. Sebab masa depan lingkungan pada akhirnya sangat bergantung pada manusia seperti apa yangkita bentuk hari ini.

Merawat Bumi adalah Merawat Masa Depan

HUT ke-81 Republik Indonesia seharusnya menjadi momentum untuk melihat kemerdekaan dari perspektif yang lebih luas. Kita merdeka bukan untuk mengeksploitasi bumi tanpa batas, tetapi untuk membangun kehidupan yang adil, bermartabat, dan berkelanjutan. Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifah yang menerima amanah untuk memakmurkanbumi, bukan merusaknya.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, kesadaran ekologis harusdibentuk sejak dini melalui proses pendidikan, keteladanan, pembiasaan, dan budaya. Sementara dalam perspektif kebangsaan, menjaga lingkungan merupakan investasi peradaban. Maka, arah masa depan Indonesia semestinya bukan hanya Indonesia yang semakin maju, tetapi Indonesia yang semakin sadar.

Sadar bahwa kemajuan tanpa keberlanjutan adalah ancaman. Sadar bahwa kecerdasan tanpa moral dapat melahirkan eksploitasi. Sadar bahwa teknologi tanpa kebijaksanaan dapat mempercepat kerusakan. Dan sadar bahwa menjaga bumi bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan bagian dari tanggung jawab manusia kepada Tuhan, sesama manusia, dan generasi yang akan datang.

Pada usia 81 tahun Indonesia, mungkin sudah waktunya kita mendefinisikan kembali arti kemerdekaan: merdeka untuk membangun, merdeka untuk berinovasi, dan yang tidak kalah penting, merdeka untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama. Karena pada akhirnya, ketika kita merawat bumi, sesungguhnya kita sedang merawat masadepan manusia. Dan ketika kita merawat alam sebagai amanah Allah, sesungguhnya kita sedang menjaga makna kemerdekaan itu sendiri.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka!

Merdeka dalam pembangunan, merdeka dalam berpikir, dan merdeka dalam menjaga bumi.

Editor: Ali MZ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *